IP
Tampilkan postingan dengan label geografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label geografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2011

PROGRAM JASA LINGKUNGAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DAN PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

PROGRAM JASA LINGKUNGAN
Dengan pendekatan multi pihak, ESP memfasilitasi perencanaan dan pengelolaan daerah aliran sungai.
Penggunaan peta dan rencana tata ruang membantu menentukan kegiatan yang akan berdampak
besar pada fungsi daerah aliran sungai dan konservasi keanekaragaman hayati.

ALWIS RUSTAM
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan
Pelestarian Keanekaragaman Hayati
Layanan kebutuhan kemanusiaan dasar seperti air bersih
dan sanitasi belum secara memadai memenuhi kebutuhan
penduduk miskin Indonesia. Hampir sepertiga penduduk
Indonesia kekurangan akses ke air minum yang aman
dan terjangkau. Diare tetap menjadi pembunuh terbesar
kedua anak-anak balita, terhitung lebih dari 100.000
kematian per tahun. Ekosistem yang memberi sumber air
berkelanjutan yang bersih yang merupakan kebutuhan
pokok masyarakat telah benar-benar terancam.
Tim Pengelolaan Daerah Aliran Sungai ESP bekerja
dengan pemerintah, masyarakat, LSM dan mitra-mitra
sektor swasta untuk menstabilkan dan meningkatkan
pasokan air baku ke pusat-pusat penduduk kota dan
pinggir kota di Propinsi Utama dengan melindungi dan
merehabilitasi pasokan air baku dan wilayah bernilai
konservasi tinggi di hulu Daerah Aliran Sungai di
Indonesia.
ESP menggunakan pendekatan bentang alam untuk
meningkatkan pemeliharaan tanah, menyatukan
pelestarian hutan-hutan alam dengan nilai
keanekaragaman hayati tinggi, pemulihan dan rehabilitasi
hutan-hutan yang telah rusak dan lahan-lahan kritis, dan
pengolahan berkelanjutan lahan pertanian. Memperbaiki
kondisi-kondisi untuk meningkatkan perlindungan
tanah mencakup bantuan kebijakan untuk kepemilikan
lahan yang diperlukan untuk pengelolaan hutan yang
bertanggung jawab berbasis masyarakat, serta pilihanpilihan
pembiayaan untuk memberikan penghargaan
kepada masyarakat hulu daerah aliran sungai untuk
kegiatan-kegiatan yang memberikan sumbangsih kepada
pelestarian pasokan stabil air baku untuk penduduk di
hilir mereka.
ESP memfasilitasi pendekatan partisipatif untuk
perencanaan dan pengelolaan Daerah aliran sungai atas,
yang mulai pada tingkat masyarakat untuk pengaruh
lapangan langsung serta tingkat propinsi dan nasional
untuk memastikan kebijakan yang memadai dan bantuan
anggaran untuk mempertahankan dan memperluas
pengaruh.
Sekolah Lapangan berbasis masyarakat
ESP membantu peran serta masyarakat dalam
pengelolaan Daerah aliran sungai melalui fasilitasi Sekolah
Lapangan. Pendekatan pendidikan dewasa ini menyatukan
proses Penilaian Mata Pencaharian berkelanjutan di
dalam kerangka kerja ekologi air, dan memungkinkan
masyarakat untuk memperoleh kontrol yang lebih besar
terhadap mata pencaharian mereka dan lingkungan di
mana mereka tinggal.
Melalui sekolah lapangan lebih dari tiga bulan, peserta belajar bagaimana menerapkan
keterampilan dalam rehabilitasi lahan, pelestarian keanekaragaman hayati, air bersih
dan sanitasi berbasis masyarakat, dan perubahan perilaku kesehatan dan kebersihan.
Forum Pengelolaan Daerah aliran sungai & Rencana Kerja
ESP memastikan pengaruh dan keberlanjutan pengelolaan daerah aliran sungai
dan kerja pelestarian keanekaragaman hayati melalui pengembangan pembentukan
Forum Manajemen Daerah aliran sungai dan Rencana Kerja. Digunakan untuk
masalah-masalah khusus, ekologi, budaya dan hubungan kelembagaan masing-masing
Daerah aliran sungai, Forum multi-pihak ini memandu pengembangan kebijakan dan
pelaksanaan Rencana Kerja. Forum ini menetapkan target-target dan memastikan
bantuan anggaran untuk merehabilitasi lahan, pelestarian keanekaragaman hayati dan
pengembangan masyarakat.
Rehabilitasi Lahan-lahan Rusak
Dimulai dengan proses perencanaan ruang, ESP bekerja dengan para mitra untuk
􀁐􀁈􀁑􀁊􀁌􀁇􀁈􀁑􀁗􀁌􀃀􀁎􀁄􀁖􀁌􀀃􀁇􀁄􀁑􀀃􀁐􀁈􀁐􀁈􀁗􀁄􀁎􀁄􀁑􀀃􀁏􀁄􀁋􀁄􀁑􀀃􀁇􀁄􀁑􀀃􀁇􀁄􀁈􀁕􀁄􀁋􀀃􀁎􀁕􀁌􀁗􀁌􀁖􀀃􀁜􀁄􀁑􀁊􀀃􀁐􀁈􀁐􀁌􀁏􀁌􀁎􀁌􀀃􀁑􀁌􀁏􀁄􀁌􀀃􀁓􀁈􀁏􀁈􀁖􀁗􀁄􀁕􀁌􀁄􀁑􀀃
tinggi di daerah aliran sungai atas. ESP bekerja dengan masyarakat setempat melalui
Sekolah Lapangan untuk mengembangkan pemeliharaan tanah, menanam benih dan
kemudian penanaman benih-benih di lahan kritis milik sendiri atau di lahan kritis yang
dikelola secara bersama-sama oleh masyarakat setempat dan badan-badan lain. ESP
juga memberi bantuan teknis kepada Departemen Kehutanan, Perhutani dan berbagai
inisiatif penghijauan kembali setempat untuk memastikan keterlibatan masyarakat
setempat dan manfaat. Dengan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam Forum
Pengelolaan Daerah aliran sungai, perhatian khusus diberikan kepada pembentukan
pengaturan kepemilikan lahan secara jelas yang memberi masyarakat insentif untuk
berperan serta secara aktif dalam rehabilitasi lahan.

Pelestarian Keanekaragaman hayati secara Desentralisasi
dan Bersama-sama
ESP membantu pengelolaan desentralisasi dan bersama-sama
untuk daerah-daerah yang dilindungi yang memiliki nilai pelestarian
tinggi melalui berbagai kegiatan. Dalam kerja sama erat dengan
PHKA Departemen Kehutanan, ESP membantu pelaksanaan baik
program Taman Nasional percontohan maupun pembuatan program
Desa Lestari. Program Desa Lestari berubah dari Pelestarian dan
Pengembangan Terpadu, dan memberikan penekanan yang lebih besar
pada pengelolaan masyarakat di daerah-daerah yang dilindungi serta
kegiatan-kegiatan pengembangan masyarakat yang didasarkan pada
hubungan jelas dengan pelestarian daerah-daerah yang dilindungi
yang berdekatan. ESP juga bekerja untuk memperkuat pengelolaan
Taman Hutan Raya, dan membantu Kebanggaan lokal dalam
kampanye Pelestarian. ESP mengembangkan berbagai pendekatan
untuk Pembayaran Pelayanan Lingkungan (PES) untuk menjaga kerja
pelestarian ini dan menunjukkan hubungan penting antara masyarakat
daerah aliran sungai atas dan bawah dalam bentuk pelestarian sumber
air dan keanekaragaman hayati.
PENCAPAIAN-PENCAPAIAN HINGGA SEKARANG
Di antara pencapaian-pencapaian penting portofolio Daerah aliran
sungai dan keanekaragaman hayati ESP selama 2006 adalah sebagai
berikut:
• Rehabilitasi Lahan Kritis. Pada tahun 2006, ESP memfasilitasi
rehabilitasi 22.867,55 hektar hutan rusak, hal ini mencakup
penanaman 696.427 bibit dari lahan masyarakat yang dibentuk
melalui lebih dari 100 Sekolah Lapangan ESP dan proses Penilaian
Mata Pencaharian berkelanjutan, serta melalui kemitraan antara
organisasi masyarakat setempat dan Departemen Kehutanan dan
Perhutani.
• Pelestarian Keanekaragaman hayati. Pada tahun 2006,
ESP dan mitra kami membantu memastikan lebih dari 32.800
hektar hutan dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi dengan
manajemen setempat yang lebih baik. Fokus penting diberikan
kepada Taman Hutan Raya yang dikelola oleh provinsi serta
program Taman Nasional percontohan PHKA Departemen
Kehutanan dan Desa Lestari. Dengan bekerja sama dengan
Rare dan IPB, Program Diploma untuk Pemasaran Sosial dalam
Pelestarian telah dibentuk dan putaran pertama dari lima siswa
memulai kampanye Pelestarian Kebanggaan di lokasi-lokasi ESP.
ESP juga mengembangkan tiga pendekatan untuk Pembayaran
Pelayanan Lingkungan, dan berharap untuk mengembangkan hal
ini di tahun-tahun mendatang.
• Rehabilitasi Pantai di Aceh. ESP telah membuat kemajuan
􀁖􀁌􀁊􀁑􀁌􀃀􀁎􀁄􀁑􀀃􀁇􀁄􀁏􀁄􀁐􀀃􀁓􀁈􀁐􀁅􀁈􀁑􀁗􀁘􀁎􀁄􀁑􀀃􀁎􀁈􀁊􀁌􀁄􀁗􀁄􀁑􀀐􀁎􀁈􀁊􀁌􀁄􀁗􀁄􀁑􀀃􀁕􀁈􀁋􀁄􀁅􀁌􀁏􀁌􀁗􀁄􀁖􀁌􀀃􀁏􀁄􀁋􀁄􀁑􀀃
berbasis masyarakat sepanjang garis batas pantai yang secara
langsung dipengaruhi oleh tsunami di tujuh masyarakat. Tiga pusat
pertamanan rakyat didirikan di Lamseuni, Banda Aceh, dan di
Sawang dan Kuala Meurisi di Aceh Jaya. Sepanjang 5,7 Kilometer
dari garis pantai ditanami kembali di Babah, Sawang dan Krueng
Pandee. Kegiatan-kegiatan ini secara langsung memberi manfaat
kepada lebih dari 2.840 orang.
ABDUL ROHMAN
• Mobilisasi Masyarakat melalui Sekolah Lapangan. Pada
tahun 2006, ESP memfasilitasi Sekolah-sekolah Lapangan dengan
74 kelompok masyarakat yang sekarang melaksanakan proyek
rehabilitasi lahan, pelestarian proyek keanekaragaman hayati dan
air dan sanitasi berbasis masyarakat. Hal ini menghasilkan 126
kelompok masyarakat yang bekerja di ESP saat ini. Tahun ini, ESP
juga meningkatkan sumber daya manusia dengan memperluas
kerja berbasis masyarakat melalui fasilitasi program Pelatihan
Pelatih Sekolah Lapangan ESP 12-minggu di Solok, Sumatra Barat.
Tiga puluh enam Asisten Lapangan dan Mitra Program sekarang
􀁖􀁌􀁄􀁓􀀃􀁘􀁑􀁗􀁘􀁎􀀃􀁖􀁈􀁆􀁄􀁕􀁄􀀃􀁖􀁌􀁊􀁑􀁌􀃀􀁎􀁄􀁑􀀃􀁐􀁈􀁑􀁌􀁑􀁊􀁎􀁄􀁗􀁎􀁄􀁑􀀃􀀶􀁈􀁎􀁒􀁏􀁄􀁋􀀐􀁖􀁈􀁎􀁒􀁏􀁄􀁋􀀃
Lapangan ESP di ratusan masyarakat di Indonesia.
• Pembentukan Forum Pengelolaan Daerah aliran sungai dan
Rencana Kerja. ESP memfasilitasi pembentukan, pembiayaan
dan pelaksanaan rencana pengelolaan daerah aliran sungai yang
didorong oleh berbagai pihak berkepentingan di Daerah aliran
sungai Krueng di Aceh; daerah aliran sungai Deli, sub tangkapan
air Lau Petani, dan sub tangkapan air Wampu di Sumatra Utara;
daerah aliran sungai Batang Arau, Batang Dingin dan Batang Kranji
(gabungan) di Sumatra Barat; daerah aliran sungai Cipunegara-
Ciasem dan daerah aliran sungai Citarum-Cikundul-Cilaku di Jawa
Barat; sub tangkapan air Tangsi dari daerah aliran sungai Progo di
Jawa Tengah/Yogyakarta; dan Daerah aliran sungai Brantas Hulu di
Jawa Timur.
• Pembuatan Kebijakan untuk Membantu Pengelolaan
Daerah aliran sungai dan Pelestarian Keanekaragaman
Hayati. ESP membuat kemajuan penting pada tujuh inisiatif
kebijakan lokal untuk meningkatkan hak-hak akses masyarakat
dan/atau tanggung jawab pengelolaan atas rehabilitasi lahan
dan/atau pelestarian hutan. Di tingkat nasional, ESP telah secara
berhasil bekerja dengan PHKA Departemen Kehutanan untuk
memperkuat dan merasionalisasikan proses penetapan zona
untuk pengelolaan Taman Nasional dan Daerah-daerah yang
Dilindungi.
• Penyatuan Pemberian Pelayanan, Kesehatan dan
Kebersihan dalam Kegiatan Pengelolaan Daerah aliran
sungai. Tim Pengelolaan Daerah aliran sungai memberi perhatian
khusus pada penyatuan pengelolaan air bersih, sanitasi, sampah
padat berbasis masyarakat dan kegiatan pencucian tangan dengan
sabun baik melalui Sekolah-sekolah Lapangan maupun Rencana
Kerja Pengelolaan Daerah aliran sungai. Pendekatan Sekolahsekolah
Lapangan untuk pengembangan mata pencaharian melalui
ekologi air, dan hubungan yang jelas dibuat antara masalahmasalah
lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kurikulum
Sekolah Lapangan mencakup modul mengenai air bersih, sanitasi,
pengelolaan sampah padat dan mencuci tangan dengan sabun,
dan rencana pelaksanaan Sekolah Lapangan mencakup tindakan
keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kesehatan
masyarakat. Sebagaimana mencuci tangan dengan sabun memberi
hubungan yang paling jelas untuk mengurangi kejadian diare,
semua kegiatan ESP mencakup kegiatan pencucian tangan dengan
sabun. Perubahan yang menarik tahun ini adalah perkembangan
Sekolah Lapangan Pengelolaan Sampah Padat khusus.

MEGELOLA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Mengelola Daerah Aliran Sungai

emua aktivitas manusia di darat berlangsung di dalam
suatu wilayah yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS)
yaitu wilayah daratan yang dibatasi oleh pemisah
topografis berupa punggung bukit yang menerima air
hujan dan mengalirkannya ke hilir dan bermuara ke
laut. DAS terdiri dari beberapa sub-DAS yang merupakan
suatu anak sungai yang bermuara ke waduk, dam, danau
atau sungai. Sub DAS ini sering juga disebut sebagai
Daerah Tangkapan Air atau Catchment Area. Peristiwa
banjir dan tanah longsor yang diberitakan media masa,
terjadi pada suatu kawasan yang disebut DAS tersebut.
Banyak orang menghubungkan peristiwa banjir dan tanah
longsor dengan illegal logging. Ada juga yang menyebut
akibat saluran dan sungai tidak normal, sungai tidak
mampu menampung aliran permukaan karena penuh sampah,
daerah bantaran sungai dan daerah resapan dipakai
sebagai permukiman. Banjir dan tanah longsor selalu
menjadi berita besar karena merugikan dan
menyengsarakan penduduk yang tinggal atau menghuni di
daerah rendah atau bantaran sungai suatu Sub DAS.
Fakta menunjukkan tahun 1955 sungai Batanghari banjir
menggenangi daerah Jambi, padahal saat itu hutan di
sana masih utuh. Tetapi, karena penduduk waktu itu
masih jarang, banjir tidak menjadi masalah serius.
Kini penduduk makin padat dan menghuni daerah
bantaran, daerah rendah dan daerah curam. Sedikit saja
banjir timbullah masalah sosial serius; tanah longsor
yang menelan korban.
Tata Guna Lahan
Mengapa banjir dan tanah longsor terjadi? Di dalam DAS
penggunaan lahan dibedakan atas: a) Hutan, biasanya
berada di hulu, b) Kawasan budidaya, perkebunan,
petanian, c) Pemukiman, d) Rawa, waduk atau danau,
bantaran sungai, e) Lahan industri, danlain lain. Air
hujan yang turun dalam kawasan DAS akan mengalami
beberapa kejadian yang berbeda.
Pertama, air hujan yang jatuh di kawasan hutan akan
menjadi uap kembali (eveporasi), mengalir urut batang
(stemflow) turun ke tanah atau jatuh langsung dari
dahan, ranting dan daun langsung ke tanah. Karena pada
umumnya lapisan permukaan tanah hutan terdiri dari
bahan organik (horizon O) yang berasal dari
dekomposisi bahan tanaman, maka air yang sampai ke
tanah akan mudah diresapkan ke dalam tanah. Air yang
jatuh ke tanah akan ditahan oleh lapisan tumbuhan
bawah, berupa semak dan perdu, serta lapisan humus
sehingga sedikit merusak partikel tanah.
Kedua, lahan pertanian biasanya intensip digarap,
disiangi, dipupuk sehingga tanaman bawah bersih.
Akibatnya air hujan yang jatuh ke tanah dapat langsung
mencerai-beraikan partikel tanah di permukaan lahan
dan terjadi erosi. Hujan yang jatuh langsung dari
langit ke permukaan lahan akan mencerai-beraikan
partikel tanah dengan energi yang lebih besar sehingga
erosinya akan makin besar.
Apalagi saat menjelang musim tanam, lahan biasanya
dibersihkan sehingga saat hujan datang tetapi tanaman
belum mampu melindungi tanah maka erosi akan terjadi.
Air yang meresap ke dalam tanah lebih sedikit dari
pada yang mengalir sebagai aliran permukaan tanah
(run-off) yang mampu menyebabkan erosi dan mengalir ke
sungai bersama sedimen yang terangkut.
Tanaman keras perkebunan berfungsi sama atau hampir
sama dengan tanaman hutan. Karena di bawah tegakan
terdapat tanaman penutup tanah yang mampu menahan
pukulan air hujan. Air yang jatuh ke tanah akan
meresap ke dalam tanah. Demikian pula aliran permukaan
dihambat oleh tanaman penutup, sisanya masuk ke
sungai. Volume run-off dihambat oleh tegakan tanaman
erkebunan, demikian pula sedimennya.
Ketiga, pemukiman terutama di pekotaan sebagian besar
terdiri dari bangunan kedap air; atap, halaman beton,
jalanan aspal, saluran beton, sehingga air tidak
diberi kesempatan meresap ke dalam tanah. Akibatnya
hampir semua air hujan mengalir ke sungai utama dan
berakhir ke laut, waduk, dan atau danau, termasuk
semua bentuk limbah yang diangkut. Makin luas atau
makin besar persentasi kawasan pemukiman dari suatu
DAS maka makin besar air yang masuk ke sungai dan
berpotensi menambah volume air sungai dan menimbulkan
banjir di musim penghujan. Meskipun demikian erosi di
kawasan pemukiman di perkotaan relatif lebih kecil
dibanding dengan pedesaan atau kawasan budidaya.
Keempat, air hujan yang jatuh ke permukaan air di
waduk, danau, dam, atau sungai akan menambah langsung
volume air yang tercermin dengan naiknya permukaan
air. Secara langsung tidak menyebabkan erosi, tetapi
kalau air tersebut mengalir maka kecepatan aliran akan
dapat mengikis dinding/tebing saluran/badan air dan
mengangkutnya ke hilir.
Bantaran sungai (flood plain) merupakan kawasan
cadangan aliran sungai. Dalam keadaan aliran air
melebihi normal, maka aliran air akan memenuhi
bantaran sungai. Dalam keadaan curah hujan yang luar
biasa besar (siklus 50 tahunan atau lebih), air akan
melimpah ke daerah rendah di sekitar bantaran sungai,
padahal bantaran sungai tidak diperuntukkan bagi
pemukiman. Ingat tahun 1955, daerah Jambi mengalami
banjir besar meskipun penduduk belum banyak dan hutan
masih utuh. Demikian pula Bengawan Solo meluap tahun
1966 mengakibatkan banyak kota, termasuk Solo,
tergenang.
Banjir, erosi, tanah longsor dan kekeringan menjadi
masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat dan
Pemerintah. Beberapa daerah tergenang air, tanah
longsor, banjir lumpur, jalur jalan putus, dan rakyat
perkampungan terisolasi pada musim penghujan
terberitakan di berbagai media masa. Pada musim
kemarau, media masa memuat berita rakyat kekurangan
air bersih, beribu-ribu hektar tanaman padi puso
kekurangan air, pembangkit listrik tenaga air menurun
kapasitasnya, waduk dan saluran pengairan kering. Jika
suatu daerah terancam gagal panen, kekurangan pangan
mengancam wilayah lainnya, dan stock pangan Bulog
terancam tak terpenuhi karena gagal panen, sehingga
harus impor. Kejadian ekstrim yang silih berganti
antara musim kemarau dan penghujan .
Meskipun merupakan fenomena biasa, sebenarnya kedua
kejadian itu adalah akibat kegiatan manusia yang
meningkat dalam mengeksploitasi sumber daya alam.
Eksploitasi tanpa memperhatikan kelestarian akan
mengganggu keseimbangan alam, menyebabkan bencana bagi
manusia. Kerusakan tersebut semestinya dapat dicegah.
Bagi yang belum terlanjur rusak harus kita cegah
terjadinya kerusakan. Bagi yang sudah terlanjur rusak
harus kita perbaiki atau kita rehabilitasi agar pulih
atau mendekati seperti sebelum rusak.

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Daerah Aliran Sungai (DAS) = daerah sekitar aliran sungai atau sekelilingnya dimana jika terjadi hujan, airnya mengalir ke sungai tersebut.

Macam-macam DAS
DAS dibagi menjadi 2 macam:
  1. DAS Gemuk
Yaitu DAS yang luas sehingga memilih daya tampung air yang besar.
DAS ini cenderung mengalami luapan air yang besar pada waktu hujan besar yang terjadi di bagian hulu.
  1. DAS Kurus
Yaitu DAS yang relative kecil sehingga daya tampung air hujan juga sedikit.
DAS ini tidak mengalami luapan air yang begitu besar pada saat hujan turun di bagian hulu


Contoh DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan DAS Cisadane merupakan dua DAS yang menerima curah hujan yang kemudian dialirkan ke kota Jakarta. DAS ini cukup luas melingkupi beberapa kabupaten dan kota. Penduduk di sekitar DAS ini sangat padat dengan keragaman lapangan pekerjaan yang dicirikan oleh lapangan pekerjaan di Negara berkembang. Di DAS bagian hulu sebagian besar penduduknya masih tergantung pada pertanian.
Sempitnya lapangan pekerjaan di DAS bagian hulu dan juga besarnya proporsi penduduk yang hidup di kota-kota besar yang masih berada dalam perangkap kemiskinan di dalam lingkup DAS di atas memerlukan konsentrasi penanganan yang khusus. Karena itu, penanganan DAS Ciliwung dan Cisadane tidak akan cukup didekati dari satu sisi saja, misalnya hanya menangani satu masalah yaitu masalah pengairan. Menangani masalah pengairan memerlukan penanganan yang sifatnya holistik, yang difokuskan pada penciptaan sumber-sumber ekonomi baru, yang dapat mengurangi tekanan penduduk pada pemanfaatan sumber daya air di satu pihak dan perbaikan tata ruang yang menciptakan ruang atau land use yang lebih memberikan peluang bagi terjadinya peningkatan fungsi hidroorologis dariDAS yang dibicarakan.


Fungsi DAS
Dalam rangka memberikan gambaran keterkaitan secara menyeluruh dalam pengelolaan
DAS, terlebih dahulu diperlukan batasan-batasan mengenai DASberdasarkan fungsi, yaitu
pertama
DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah hujan.
Kedua
DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
Ketiga
 DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengelolaan air limbah.
Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.
  
Usaha-usaha menjaga kelestarian lingkungan DAS:
  1. Mengusahakan DAS daerah hulu sebagai penyangga, dapat tertutup, oleh vegetasi pelindung, dengan tujuan:
    1. menjaga agar debit sungai antara musim penghujan dan kemarau dapat terkendali,
    2. menjaga supaya terhindar banjir,
    3. menjaga supaya daerah bagian hulu tidak terjadi erosi yang kuat.
2.   Mengusahakan DAS bagian hilir dapat terhindar dari berbagai bentuk polusi.